Translate

Rabu, 27 Mei 2015

Siapakah Suamimu di Surga

Siapakah Suamimu di Surga?

Saudariku muslimah, tahukah kamu siapa suamimu di surga kelak?(1)  Artikel di bawah ini akan menjawab pertanyaan anti. Ini bukan ramalan dan bukan pula tebakan, tapi kepastian (atau minimal suatu prediksi yang insya Allah sangat akurat), yang bersumber dari wahyu dan komentar para ulama terhadapnya. Berikut uraiannya:
Perlu diketahui bahwa keadaan wanita di dunia, tidak lepas dari enam keadaan:
1.    Dia meninggal sebelum menikah.
2.    Dia meninggal setelah ditalak suaminya dan dia belum sempat menikah lagi sampai meninggal.
3.    Dia sudah menikah, hanya saja suaminya tidak masuk bersamanya ke dalam surga, wal’iyadzu billah.
4.    Dia meninggal setelah menikah baik suaminya menikah lagi sepeninggalnya maupun tidak (yakni jika dia meninggal terlebih dahulu sebelum suaminya).
5.    Suaminya meninggal terlebih dahulu, kemudian dia tidak menikah lagi sampai meninggal.
6.    Suaminya meninggal terlebih dahulu, lalu dia menikah lagi setelahnya.
Berikut penjelasan keadaan mereka masing-masing di dalam surga:
    Perlu diketahui bahwa keadaan laki-laki di dunia, juga sama dengan keadaan wanita di dunia: Di antara mereka ada yang meninggal sebelum menikah, di antara mereka ada yang mentalak istrinya kemudian meninggal dan belum sempat menikah lagi, dan di antara mereka ada yang istrinya tidak mengikutinya masuk ke dalam surga. Maka, wanita pada keadaan pertama, kedua, dan ketiga, Allah -‘Azza wa Jalla- akan menikahkannya dengan laki-laki dari anak Adam yang juga masuk ke dalam surga tanpa mempunyai istri karena tiga keadaan tadi. Yakni laki-laki yang meninggal sebelum menikah, laki-laki yang berpisah dengan istrinya lalu meninggal sebelum menikah lagi, dan laki-laki yang masuk surga tapi istrinya tidak masuk surga.
Ini berdasarkan keumuman sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hadits riwayat Muslim no. 2834 dari sahabat Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-:
مَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبٌ
“Tidak ada seorangpun bujangan dalam surga”.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah- berkata dalam Al-Fatawa jilid 2 no. 177, “Jawabannya terambil dari keumuman firman Allah -Ta’ala-:
وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ. نُزُلاً مِنْ غَفُوْرٍ رَحِيْمٍ
“Di dalamnya kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kalian minta. Turun dari Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 31)
Dan juga dari firman Allah -Ta’ala-:
وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kalian kekal di dalamnya.” (Az-Zukhruf: 71)
Seorang wanita, jika dia termasuk ke dalam penghuni surga akan tetapi dia belum menikah (di dunia) atau suaminya tidak termasuk ke dalam penghuhi surga, ketika dia masuk ke dalam surga maka di sana ada laki-laki penghuni surga yang belum menikah (di dunia). Mereka -maksud saya adalah laki-laki yang belum menikah (di dunia)-, mereka mempunyai istri-istri dari kalangan bidadari dan mereka juga mempunyai istri-istri dari kalangan wanita dunia jika mereka mau. Demikian pula yang kita katakan perihal wanita jika mereka (masuk ke surga) dalam keadaan tidak bersuami atau dia sudah bersuami di dunia akan tetapi suaminya tidak masuk ke dalam surga. Dia (wanita tersebut), jika dia ingin menikah, maka pasti dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan, berdasarkan keumuman ayat-ayat di atas”.
Dan beliau juga berkata pada no. 178, “Jika dia (wanita tersebut) belum menikah ketika di dunia, maka Allah -Ta’ala- akan menikahkannya dengan (laki-laki) yang dia senangi di surga. Maka, kenikmatan di surga, tidaklah terbatas kepada kaum lelaki, tapi bersifat umum untuk kaum lelaki dan wanita. Dan di antara kenikmatan-kenikmatan tersebut adalah pernikahan”.
    Adapun wanita pada keadaan keempat dan kelima, maka dia akan menjadi istri dari suaminya di dunia.
    Adapun wanita yang menikah lagi setelah suaminya pertamanya meninggal, maka ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama -seperti Syaikh Ibnu ‘Ustaimin- berpendapat bahwa wanita tersebut akan dibiarkan memilih suami mana yang dia inginkan.
Ini merupakan pendapat yang cukup kuat, seandainya tidak ada nash tegas dari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- yang menyatakan bahwa seorang wanita itu milik suaminya yang paling terakhir. Beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
اَلْمَرْأَةُ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا
“Wanita itu milik suaminya yang paling terakhir”. (HR. Abu Asy-Syaikh dalam At-Tarikh hal. 270 dari sahabat Abu Darda` dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah: 3/275/1281)
Dan juga berdasarkan ucapan Hudzaifah -radhiyallahu ‘anhu- kepada istri beliau:
إِنْ شِئْتِ أَنْ تَكُوْنِي زَوْجَتِي فِي الْجَنَّةِ فَلاَ تُزَوِّجِي بَعْدِي. فَإِنَّ الْمَرْأَةَ فِي الْجَنَّةِ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا فِي الدُّنْيَا. فَلِذَلِكَ حَرَّمَ اللهُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ أَنْ يَنْكِحْنَ بَعْدَهُ لِأَنَّهُنَّ أَزْوَاجُهُ فِي الْجَنَّةِ
“Jika kamu mau menjadi istriku di surga, maka janganlah kamu menikah lagi sepeninggalku, karena wanita di surga milik suaminya yang paling terakhir di dunia. Karenanya, Allah mengharamkan para istri Nabi untuk menikah lagi sepeninggal beliau karena mereka adalah istri-istri beliau di surga”. (HR. Al-Baihaqi: 7/69/13199 )
Faidah:
Dalam sholat jenazah, kita mendo’akan kepada mayit wanita:
وَأَبْدِلْهَا زَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا
“Dan gantilah untuknya suami yang lebih baik dari suaminya (di dunia)”.
Masalahnya, bagaimana jika wanita tersebut meninggal dalam keadaan belum menikah. Atau kalau dia telah menikah, maka bagaimana mungkin kita mendo’akannya untuk digantikan suami sementara suaminya di dunia, itu juga yang akan menjadi suaminya di surga?
Jawabannya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah-. Beliau menyatakan, “Kalau wanita itu belum menikah, maka yang diinginkan adalah (suami) yang lebih baik daripada suami yang ditakdirkan untuknya seandainya dia hidup (dan menikah). Adapun kalau wanita tersebut sudah menikah, maka yang diinginkan dengan “suami yang lebih baik dari suaminya” adalah lebih baik dalam hal sifat-sifatnya di dunia (2). Hal ini karena penggantian sesuatu kadang berupa pergantian dzat, sebagaimana misalnya saya menukar kambing dengan keledai. Dan terkadang berupa pergantian sifat-sifat, sebagaimana kalau misalnya saya mengatakan, “Semoga Allah mengganti kekafiran orang ini dengan keimanan”, dan sebagaimana dalam firman Allah -Ta’ala-:
يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ
“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit.” (Ibrahim: 48)
Bumi (yang kedua) itu juga bumi (yang pertama) akan tetapi yang sudah diratakan, demikian pula langit (yang kedua) itu juga langit (yang pertama) akan tetapi langit yang sudah pecah”. Jawaban beliau dinukil dari risalah Ahwalun Nisa` fil Jannah karya Sulaiman bin Sholih Al-Khurosy.
___________
(1) Karenanya sebelum berpikir masalah ini, pikirkan dulu bagaimana caranya masuk surga.
(2) Maksudnya, suaminya sama tapi sifatnya menjadi lebih baik dibandingkan ketika di dunia.

Selasa, 26 Mei 2015

Bidadari Penghuni Surga

Bidadari Penghuni Surga



Bayangkan kita berada di surga. Kemudian kita melihat sebuah cahaya yang sangat benderang di langit.

Jadi kita bertanya pada malaikat “Cahaya apa itu di langit?”

Para malaikat menjawab “Tidakkah kau tahu?”

“Aku tidak tahu. Memangnya apa itu?”

“Itu adalah istri-istrimu di surga yang tersenyum. Dan ketika mereka tersenyum, maka ada kilat di langit.”

Kecantikan Fisik

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

“Rombongan yang pertama masuk surga adalah dengan wajah bercahaya bak rembulan di malam purnama. Rombongan berikutnya adalah dengan wajah bercahaya seperti bintang-bintang yang berkemilau di langit. Masing-masing orang di antara mereka mempunyai dua istri, dimana sumsum tulang betisnya kelihatan dari balik dagingnya. Di dalam surga nanti tidak ada bujangan.” 
(HR. Bukhari dan Muslim)

كَذَلِكَ وَزَوَّجْنَاهُم بِحُورٍ عِينٍ
“Demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari.” (Qs. Ad-Dukhan: 54)

Abu Shuhaib al-Karami mengatakan, “Yang dimaksud dengan hur adalah bentuk jamak dari  haura, yaitu wanita muda yang cantik jelita dengan kulit yang putih dan dengan mata yang sangat hitam. Sedangkan arti ‘ain adalah wanita yang memiliki mata yang indah.

Al-Hasan berpendapat bahwa haura adalah wanita yang memiliki mata dengan putih mata yang sangat putih dan hitam mata yang sangat hitam.
Tercatat dalam Hadist sahih Musnad Imam Ahmad, bahwa ketika wanita-wanita surga tersenyum, maka timbullah kilat di langit. Ibn Qayyim R.H. juga membicarakan tentang Hur ‘ain (bidadari) dan para wanita surga. Dia berkata “Jika wanita dunia diciptakan dari tanah dan dapat dibuat menjadi demikian cantiknya, apalagi Hur ‘ain (bidadari), karena bahan dasar mereka adalah zafaron.”
Ibn Qayyim R.H. menyebutkan bahwa kalian bisa melihat sum-sum tulang betis mereka karena begitu indahnya mereka. Dia memberitahu tubuh mereka, kecantikan mereka, tentang mereka bernyanyi kepada suami mereka, dan harumnya mereka. Dia memberitahu energi yang diberikan Allah padamu untuk meniduri istri-istrimu, bahwa penghuni surga tak pernah tidur, bahwa penghuni surga tak berjenggot, dan wanita-wanita surga tidak berjilbab. Jadi jilbab hanya diperuntukkan untuk wanita di dunia.

Sopan dan Pemalu

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati bidadari dengan “menundukkan pandangan” pada tiga tempat di Al-Qur’an, yaitu:

“Di dalam surga, terdapat bidadari-bidadari-bidadari yang sopan, yang menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan? Seakan-akan biadadari itu permata yakut dan marjan.” (Qs. Ar-Rahman: 56-58)
“Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya.” 
(Qs. Ash-Shaffat: 48)
“Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya.”

Seluruh ahli tafsir sepakat bahwa pandangan para bidadari surgawi hanya tertuju untuk suami mereka, sehingga mereka tidak pernah melirik lelaki lain.

Putihnya Bidadari

Allah Ta’ala berfirman, 

“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (Qs. ar-Rahman: 58)

al-Hasan dan mayoritas ahli tafsir lainnya mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah bidadari-bidadari surga itu sebening yaqut dan seputih marjan.

Allah juga menyatakan, 

“(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam kemah.” (Qs. Ar-Rahman: 72)
Maksudnya mereka itu dipingit hanya diperuntukkan bagi para suami mereka, sedangkan orang lain tidak ada yang melihat dan tidak ada yang tahu. Mereka berada di dalam kemah.

Baiklah…ini adalah sedikit gambaran yang Allah berikan tentang bidadari di surga. Karena bagaimanapun gambaran itu, maka manusia tidak akan bisa membayangkan sesuai rupa aslinya, karena sesuatu yang berada di surga adalah sesuatu yang tidak/belum pernah kita lihat di dunia ini.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  

“Allah Azza wa Jalla berfirman, “Aku siapkan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas oleh pikiran.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keutamaan Wanita Dunia dibanding Bidadari

Setelah mengetahui sifat fisik dan akhlak bidadari, maka bukan berarti bidadari lebih baik daripada wanita surga. Sesungguhnya wanita-wanita surga memiliki keutamaan yang sedemikian besar, sebagaimana disebutkan dalam hadits,

“Sungguh tutup kepala salah seorang wanita surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan lagi, seorang manusia telah Allah ciptakan dengan sebaik-baik rupa,

“Dan manusia telah diciptakan dengan sebaik-baik rupa.” (Qs. At-Tiin: 4)

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”

Beliau shallallahu’‘alaihi wa sallam menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”

Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”

Beliau menjawab, 
“Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’.” (HR. Ath Thabrani)
Dalam hadist sahih, Aisyah R.A. melihat sekumpulan wanita yang berdandan dengan berlebihan lewat, sedangkan Aisyah sepenuhnya ditutupi pakaian hitam. Aisyah melihat mereka dan berkata “Nikmatilah dunia ini! Untuk kalian di dunia ini, untuk kami di akhirat.” Allahuakbar! Lihatlah keteguhan seorang wanita yang saleh. Jadi bagi para saudari yang harus menutupi dirinya (dengan hijab) di dunia ini, maka tutupilah diri kalian, untuk kalian adalah kecantikan di akhirat!
Jadi ketika seorang suami beristrikan Hur ‘ain, Ibnu Qayyim R.H. menyebutkan dalam hadist sahih dalam Musnad Imam Ahmad, bahwa pada saat itu akan datang seorang wanita lain. Seorang wanita yang kecantikan dan keelokannya akan membuat seorang raja melupakan wanita-wanita lainnya. Siapa wanita ini? Wanita ini adalah istrinya di dunia ini. Jadi istrinya di dunia ini akan menjadi ratu dari para Hur ‘ain (bidadari). Dan Ibnu Qayyim menyebutkan “Apakah seorang raja pernah memikirkan para pelayan-pelayannya di hadapan seorang ratu?” Tentu tidak! Jadi istrinya di dunia akan diberikan kecantikan jauh melebihi para bidadari. Mengapa begitu?
Ibnu Qayyim berkata “Karena Hur ‘ain (bidadari) tidak pernah menghadapi kesulitan yang dirasakan wanita dunia. Mereka tidak pernah berjuang di jalan Allah, tidak pernah dicemooh orang karena mengenakan hijab, tidak pernah merasakan sulitnya patuh pada suami.” 

Subhanallah. Betapa indahnya kecantikan bidadari di surga. Bagi para saudari Muslimku, semoga kalian menjadi lebih bersemangat dan bersungguh-sungguh untuk menjadi wanita shalihah. Berusaha untuk menjadi sebaik-baik perhiasan. Berusaha dengan lebih keras untuk bisa menjadi wanita penghuni surga.. Nah, tinggal lagi, apakah kalian mau berusaha menjadi salah satu dari wanita penghuni surga?

Minggu, 24 Mei 2015

Tips Salat Khusyuk

Tips Salat Khusyuk

Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa khusyuk dalam salat mengandung makna batin yang meliputi enam unsur, yaitu:
  1. Kehadiran hati atau konsentrasi
  2. Memahami bacaan salat
  3. Mengagungkan Allah
  4. Haibah (perasaan takut kepada Allah)
  5. Raja’ (pengharapan kepada Allah)
  6. Haya’ (perasaan malu kepada Allah)
Prof. Tengku Hasbi As Shiddieqy mengajukan 7 saran sebagai kiat kusyuk dalam shalat:
  1. Hendaklah kita menganggap berdiri di hadapan Allah yang Mahakuasa, Yang Maha Mengetahui segala rahasia
  2. Hendaklah memahami zikir-zikir yang dibaca, yakni memperhatikan maknanya, kandungannya, serta maksudnya.
  3. Hendaklah memanjangkan rukuk dan sujud (tuma’ninah)
  4. Tidak mempermainkan anggota tubuh, seperti menggerakkan tangan, menggaruk kepala, dan berpaling-paling.
  5. Hendaklah tetap memandang ke tempat sujud, walaupun bermata buta atau bersalat di sisi Kabbah.
  6. Hendaklah menjauhkan diri dari segala yang mengganggu hati, seperti menahan buang air besar atau kecil.
Untuk bisa khusyuk dalam salat diperlukan juga langkah persiapan dan kesiapan sebagai pra-kondisi sebelum salat atau di luar shalat. Pra-kondisi di sini yang dimaksud antara lain:
  • Memahami fungsi, tujuan, dan tata cara pelaksanaan salat, dengan mengacu pada petunjuk Al Qur’an dan sunnah Rasul.
  • Melaksanakan wudu dengan pelaksanaan dan penghayatan yang baik dan benar
  • Menyambut bacaan azan dan iqamah dengan penuh penghayatan
  • Memilikih tempat salat (masjid / musala) yang kondusif, yaitu suci, bersih, nyaman, tenang, dan menyenangkan.
  • Menjauhkan berbagai hal yang bisa mengganggu konsentrasi pelaksanaan salat. Misal: mematikan handphone.
  • Memiliki niat yang ikhlas disertai kedekatan dan ketaatan kepada Allah.

Doa Mustajab

 

Doa Mustajab

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Doa adalah senjata orang mukmin, pilar agama, dan cahaya bagi langit dan bumi.” Kekuatan doa pun tidak perlu diragukan lagi, sebab apa pun yang kita panjatkan, selama tidak untuk kejahatan dan pemutusan silaturahmi, pasti cepat atau lambat akan dikabulkan oleh Allah jika dilakukan dengan benar dan tepat sesuai tuntunan Rasulullah sebab itu merupakan janji Allah kepada kita.
“Setiap hamba yang berdoa kepada Allah, pastilah doanya itu dikabulkan, atau Allah menjauhkannya dari kejahatan, selama ia berdoa memohon sesuatu yang tidak membawa kepada dosa atau memutuskan silaturahmi.” (H.R. at-Tirmizi)
“Tidaklah seorang muslim yang berdoa dengan doa yang tidak mengandung kejahatan dan pemutusan silaturahmi, kecuali Allah akan memberikan kepadanya satu dari tiga hal: (1) pengabulan doanya dipercepat; (2) pengabulan doanya diakhirkan di akhirat; (3) ia akan dihindarkan dari kejelekan yang semisal.” (H.R. Ahmad)
Sebagai manusia, sudah sewajarnya kita ingin agar doa kita senantiasa dikabulkan secepatnya oleh Allah. Doa yang demikian dinamakan doa yang mustajab atau doa yang segera / langsung dikabulkan oleh Allah, tanpa harus tertunda lagi. Ada 10 macam golongan orang yang doanya mustajab:
  1. Doa seorang muslim terhadap saudaranya tanpa sepengetahuannya (H.R. Muslim)
  2. Doa orang yang banyak berdoa (H.R. Tirmizi)
  3. Doa orang yang teraniaya (H.R. Muslim)
  4. Doa orang tua kepada anaknya (H.R. Abu Daud)
  5. Doa seorang musafir (H.R. Abu Daud)
  6. Doa orang yang berpuasa (H.R. al-Baihaqi)
  7. Doa orang dalam keadaan terpaksa / terjepit keadaan (Q.S. an-Naml [27]:62)
  8. Doa anak yang berbakti kepada orang tuanya (H.R. al-Bazzar)
  9. Doa pemimpin yang adil (H.R. al-Baihaqi)
  10. Doa orang yang bertobat (Q.S. an-Nisa’ [4]:110)
Sedangkan berikut ini adalah lokasi atau tempat dimana doa yang kita baca di sana akan mustajab:
  • Ka’bah (H.R. Thabrani)
  • Multazam (H.R. Thabrani)
  • Masjid Agung (Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha)
  • Antara Bukit Shafa dan Marwa (H.R. Muslim)
  • Raudhah, Masjid Nabawi, setelah menunaikan shalat dua raka’at
  • Di belakang Maqam Ibrahim
  • Di Padang Arafah, ketika wukuf

Rabu, 13 Mei 2015

MENIKAH MEMBUAT SESEORANG MENJADI KAYA


MENIKAH MEMBUAT SESEORANG MENJADI LEBIH KAYA

Teori yang mengatakan bahwa menikah membuat seseorang menjadi lebih kaya tentu bukan isapan jempol semata. Pada dasarnya seseorang lahir kedunia sudah ada taksir rezekinya masing-masing, maka dengan menikah, rezeki itu akan bersatu dan semakin bertambah pula saat kehadiran seorang anak di tengah-tengah pasangan suami-istri. Selain itu, seperti yang sudah dijabarkan di atas, menikah membuat seseorang termotivasi untuk bekerja lebih baik demi penghasilan yang lebih baik pula. Berikut ada sebuah kisah nyata tentang kehidupan rumahtangga seseorang, yang merubah status sosial dan ekonomi bagi ia dan keluarganya:

Adalah seorang laki-laki yang hidup di kota metropolitan, ia hanya seorang keyawan swasta dengan pendapatan tidak lebih dari dua juta rupiah perbulan. Sangat jauh dari kata cukup, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sangat terbatas. Hal ini membuat ia tidak memiliki tabungan sama sekali. Tapi karena keyakinan, bahwa Allah SWT akan memudahkan rezeki orang yang menikah, maka ia pun berani melamar perempuan yang dikaguminya.
Singkatnya, lamaran laki-laki tersebut diterima dan acara pernikahan yang sederhana pun dilangsungkan. Saat itu si mempelai pria tidak menghadirkan satupun anggota keluarganya, karena acara akad nikah diadakan di kota lain, sedangkan si mempelai pria tersebut sama sekali tidak memiliki biaya untuk membawa serta keluarganya, maka hanya do’a yang dapat dihadiahkan bagi si mempelai tersebut dari keluarganya.
Saat sang istri mengandung, tidak ada perlakuan khusus bagi kandungannya, seperti memeriksakan kandungan ke dokter atau mengkonsumsi susu ibu hamil, karena keterbatasan biaya. Bahkan untuk tinggal pun mereka masih menumpang pada orangtua istri. Saat sang istri melahirkan, keduanya kebingungan soal biaya karena mereka sama sekali tidak memiliki tabungan. Tapi berkat pertolongan Allah SWT, dating keluarga dekat yang dengan ikhlas membantu.
Seiring berjalannya waktu, rumahtangga mereka yang harmonis dan saling mengingatkan untuk selalu dekat dengan Allah SWT pun mendapat keberkahan yang tidak pernah diduga sebelumnya. Karir sang suami semakin menanjak, kondisi ekonomi mulai mengalami peningkatan. Sedikit demi sedikit mereka memperlihatkan pada lingkungan bahwa usaha keras mereka membuahkan hasil. Mulai dari merenovasi rumah orangtua, membeli kendaraan yang awalnya dari kendaraan sederhana hingga akhirnya dapat terbeli kendaraan mewah, serta sebuah rumah mewah.
Semua itu mereka dapatkan berkat kerja keras, saling mendukung dan saling percaya pada satu sama lain. Begitulah kehidupan rumahtangga mereka yang senantiasa dekat dengan Allah SWT, akan menjadi penuh keberkahan bukan hanya bagi keduanya tapi juga untuk keluarga besar keduanya serta berdampak positif bagi lingkungan.

Kisah di atas adalah sesuai dengan janji Allah SWT dalam firmanya:
”dan menikahlah orang-orang yang sederhana di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan jika mereka merasa miskin Allah SWT akan memampukan mereka dengan karunianya dan Allah maha luas (pemberianya) lagi maha mengetahui (QS.An.Nur:32)
Sesungguhnya benar janji Allah SWT jika mereka miskin Allah SWT akan memampukan mereka dengan karunianya dan Allah Aswt lah yang akan membuat mereka kaya. Semoga kisah tersebut menjadi motivasi bsgi yang masih ragu untuk menikah karena belum mapan secara finansial. Juga bagi yang sudah menikah, tapi belum ada perubahan dari segi finansial, jangan menyerah. Terus berusaha, sebab motivasi terbesar bagi seseorang yang sudah berrumahtangga adalah keluarga, maka perbaiki komunikasi dengan keluarga, barangkali selama ini masih ada hal-hal yang mengganjal dan menghambat rezeki tersebut untu mengalir.

Senin, 11 Mei 2015

Balasan untuk orang yang sabar dan sedekah

Assalamualaikum wrwb.
Renungan pagi
'dan orang-orang yang sabar karena mengharap wajah tuhanya.melaksanakan salat dan menginfakan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka,secara sembunyi atau secara terang-terangan,serta menolak kejahatan dengan kebaikan,orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)
(yaitu)surga-surga Adn mereka masuk kedalamnya bersama orang-orang saleh,dari nenek moyang pasangan -pasanganya cucunya,sedangkat para malaikat masuk ketempat tempat mereka dari semua pintu.
sambil mengucapkan salam sejahtera atasmu karena kesabaranmu maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.(Qs Ar Rad 22-23-24)
subhanllah semoga kita termasuk didalamnya Aamiin yra
"Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang ia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang ia kehendaki) mereka bergembira dengan kehidupan dunia,padahal kehidupan dunia hanyalah kesenangan(yang sedikit) dibanding kehidupan akherat (Qs Ar Rad :26)
semoga menjadi penyemangat dan senantiasa mengingat Allah swt Aamiin yra
wassalam